Jiwa Belia

22.18



Jiwa Belia


Wahai Jiwa Belia...
Tenanglah untuk sesaat,
syukuri udara pagi yang meraba kegelisahanmu,
mematri setiap kehendak "liarmu",
lunturkan gejolak hangat yang menyayat semangat,
sebuah sinyal terbentuknya guratan takdir...

Wahai Jiwa Belia...
Pernah kubercerita,
tentang Jakarta yang sedikit beringas di malam hari dan sedikit rakus di siang hari...

Yah...terkadang Jakarta memang terlalu kejam,
sampai-sampai ia lupa,
siapa teman,
siapa sahabat,
bahkan siapa keluarga,
tempat tumbuh dan kembangnya,
kualitas cinta dan kasih sayang yang terbaik...

Wahai Jiwa Belia...
Manusia punya masa lalu dan masa depan,
dan yang kan tersisa lebih lama mungkin adalah masa depan...

Wahai Jiwa Beli...
Tak ingin lagi kudengar,
kisah jiwa yang nestapa,
diremuk sang waktu sampai tak tercium coretan kisahnya...

Wahai Jiwa Belia,
Apa yang engkau cari ?

[Sungai Bambu, 11 Desember 2015, 15:07]
Previous
Next Post »
0 Komentar